Muhammadiyah Boarding School Bumiayu

Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Bumiayu Menerima Santri Baru Tahun Pelajaran 2016/2017

Saturday, 16 January 2016

POKOK – POKOK PEMIKIRAN KH.AHMAD DAHLAN

POKOK – POKOK PEMIKIRAN KH.AHMAD DAHLAN

 I. Pendahuluan
Bila kita berbicara tentang pembaharuan dalam Islam, atau mungkin lebih tepat pembaharuan dalam pemahaman Islam, maka kita akan menanyakan, hal-hal apa saja dalam dunia Islam yang sudah mengalami degradasi sehingga memerlukan pembaharuan atau penyegaran. Pertanyaan ini muncul dalam pikiran penulis karena sampai sekarang penulis melihat perselisihan umat Islam dalam mengaplikasikan ajaran Islam. Perbedaan dalam pemahaman Islam sebenarnya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya dan politik, ekonomi daerah setempat.
Sebagai seorang Muslim dan kita tahu bahwa Islam itu sebagai agama rahmatan lil’alamin dan juga bahwa Islam itu merupakan agama yang memberikan kemaslahatan kepada kebaikan. Saya kira apa yang sedang didiskusikan, baik di Indonesia maupun di dunia-dunia Islam lainnya mengenai pembaharuan Islam adalah dalam rangka untuk menunjukan bahwa Islam itu bukan hanya agama yang kompatibel dengan keadaan sekarang, tapi Islam mampu memberikan ruh, memberikan spirit kepada satu peradaban sekarang yang sekular. Peradaban sekular itu merupakan peradaban yang berilmu pengetahuan yang tidak berdasarkan pada fondasi-fondasi keagamaan seperti kontribusi-kontribusi ketatanegaraan, demokrasi, hukum semuanya bukan pada satu pemahaman demokrasi keagamaan tetapi sekular.
Fenomena Islam Indonesia tampaknya masih tetap menjadi fokus menarik bagi para pemerhati, termasuk oleh Giora Eliraz, seorang sarjana lulusan Australian National University yang sekarang mengajar di The Hebrew University of Jerusalem. Karya Giora Eliraz yang di review oleh Jajang Jahroni[1] mengatakan; Eliraz menulis bahwa wacana Islam di Asia Tenggara masih cenderung diabaikan dibanding, misalnya, Timur Tengah yang menyita perhatian para sarjana Barat. Padahal Asia Tenggara adalah kawasan yang dihuni oleh lebih dari dua ratus juta kaum muslim. Dan yang lebih menarik lagi, dari waktu ke waktu, Islam di Asia Tenggara terutama di Indonesia menampilkan wajah yang berbeda dengan wajah Islam yang selama ini dikenal oleh Barat. Islam di Asia Tenggara adalah Islam moderat. Secara sederhana Islam moderat didefinisikan sebagai Islam yang menjunjung tinggi toleransi dan pluralisme. Penting dicatat di sini, seperti juga sering ditulis oleh para sarjana, bahwa wajah Islam di Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara umumnya, digambarkan “lebih teduh” ketimbang Islam di Timur Tengah yang tampak “lebih keras”.
Hal ini mungkin sebagai akibat dari kenyataan bahwa kaum muslim di kawasan Asia Tenggara dan di Timur Tengah menghadapi persoalan yang berbeda. Kaum Muslimin di Asia Tenggara tidak menghadapi persoalan-persoalan “seruwet” yang dihadapi saudara-saudara mereka di Timur Tengah.
Selanjutnya bagaimanakah kita memahami perbedaan dan persamaan dalam berbagai cara dalam beragama kita? Perhatian apa yang harus diberikan pada perbedaan dan persamaan itu? Menyikapinya secara tepat sangatlah penting bagi pemerhati yang ingin secara cerdas mempelajari dan mengaitkannya dengan tingkah laku dan ekspresi keagamaan para pengikutnya. Hasrat menarik pemeluk baru dengan ditambah perasaan curiga kepada pihak-pihak luar menimbulkan konflik mereka dengan tradisi agama-agama lain.
Islam dipahami oleh Pendirinya sebagai sebuah Agama Kedamaian, yakni sebagai jalan hidup yang memungkinkan manusia hidup dengan baik di dunia ini dan kembali dengan baik pula ke dunia lainnya. Islam menginginkan terciptanya kedamaian dan kemakmuran di dunia ini.
Nabi Muhammad mendefinisikan seorang muslim sebagai “orang yang tangan dan lidahnya tidak menyakiti seorang pun Muslim lainnya.” “Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan,”(Al Quran), sebagai pesan kedamaian dan kemakmuran sekaligus sebagai hukum universal bagi penciptaan dan manusia, Islam mengklaim diri sama tuannya dengan manusia itu sendiri.[2]
Sejarah pemikiran dalam Islam memang merupakan bawaan dari ajaran Islam sendiri. Karena dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat yang memerintahkan untuk membaca, berfikir, menggunakan akal, yang kesemuanya medorong umat Islam terutama pada ahlinya untuk berfikir mengenai segala sesuatu guna mendapatkan kebenaran dan kebijaksanaan.
Kebangkitan pemikiran dalam dunia Islam baru muncul abad 19 yang dipelopori oleh Sayyid Jamalludin al-Afghani di Asia Afrika, Muhammad Abduh di mesir. Bias kedua tokoh ini di bawa oleh pelajar Indonesia yang belajar di Timur Tengah seperti diantaranya K.H. Ahmad Dahlan. Berbekal ilmu agama yang ia kuasai dan ide-ide pembaru dari Timur Tengah, K.H. Ahmad Dahlan mencoba menerapkannya di bumi Nusantara.
II. Riwayat Hidup
(K.H. Ahmad Dahlan, Kauman, Yogyakarta, 1868-23 Februari 1923)[3]. Beliau adalah pendiri Muhammadiyah. Beliau adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogjakarta pada masa itu. Ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. K.H. Ahmad Dahlan meninggal dunia di Yogyakarta, tanggal 23 Februari 1923. Beliau juga dikenal sebagai seorang Pahlawan Nasional Indonesia.[4]
Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwisy. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Walisongo, yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman bin Kyai Murtadla bin Kyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
Pada umur 15 tahun, beliau pergi haji dan tinggal di Makkah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, beliau berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, beliau bertolak kembali ke Makkah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, beliau sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, K.H. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.[5]
Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9). Beliau dimakamkan di KarangKajen, Yogyakarta.
III. Latar Belakang dan Ide Pemikiran
K.H. Ahmad Dahlan tidak pernah mengalami pendidikan formal. Ia menguasai beragam ilmu dari belajar secara otodidak baik belajar kepada ulama atau seorang ahli atau membaca buku-buku atau kitab-kitab. Beliau belajar ilmu fikih dari Kyai Mohammad Soleh yang juga kakak iparnya sendiri, belajar ilmu nahwu dari K.H. Muhcsin, belajar ilmu falaq dari K.H. Raden 0Dahlan dari Pondok Pesantren Termas, belajar ilmu hadits dari Kyai Mahfudz, belajar qiroatul qur’an dari Syekh Amin dan lain-lain. K.H. Ahmad Dahlan juga pernah berinteraksi dengan para ulama terutama saat beliau berada di Mekah, misalnya dengan Syekh Muhammad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya dan lain-lain.[6]
Kiai Ahmad Dahlan terlibat aktif dalam sistem kekuasaan Kerajaan Jawa sebagai pejabat keagamaan, bukan pedagang, dan prestasi duniawi bukan tujuan final, melainkan mediasi prestasi sesudah mati. Reformasi sosial budaya gerakan ini terus berlangsung hampir tanpa contoh dalam sejarah dan pemikiran pembaru Islam di berbagai belahan dunia. Ahmad Dahlan bisa dipastikan tidak pernah membaca karya Max Weber yang belum pernah berkunjung ke negeri ini. Jika terdapat kesesuaian gagasan dan kerja sosial keagamaan Dahlan dengan tesis Weber dan tradisi Calvinis, mungkin lebih sebagai ”insiden sosiologis” sunnatullah atau hukum alam.
Gagasan dasar Dahlan terletak pada kesejajaran kebenaran tafsir Al Quran, akal suci, temuan iptek, dan pengalaman universal kemanusiaan. Belajar filsafat baginya adalah kunci pengembangan kemampuan akal suci, selain belajar pada pengalaman beragam bangsa dan pemeluk agama. Dari sini diperoleh pengetahuan tentang bagaimana mencapai tujuan penerapan ajaran Islam, yaitu penyelamatan kehidupan umat manusia di dunia berdasarkan cinta kasih.[7] Sikap K.H. Ahmad Dahlan dipraktekkan dalam misi dahwahnya untuk mengubah arah kiblat masjid-masjid Yogyakarta termasuk Masjid Kerathon yang dinilainya tidak tepat, dan kaena itu perlu diubah arahnya.
Ahmad Dahlan tidak serta merta menyuruh mengubah arah kiblat secara sepihak. Sebagai pembaru, ia lebih menekankan adanya dialog untuk meyakinkan sasaran dahwahnya, atau orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Karena menurut Ahmad Dahlan dialog merupakan alat atau sarana untuk mencapai kebenaran.[8]
Haji Majid, seorang murid K.H. Ahmad Dahlan menuliskan pengalamannya dalam risalah singkat Falsafah Ajaran K.H. Ahmad Dahlan. Setidaknya ada tujuh point yang dapat dipetik yaitu,
Pertama; Mengutip perkataan al-Ghazali, K.H. Ahmad Dahlan mengatakan bahwa manusia itu semuanya mati (perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih.
Kedua; Kebanyakan mereka di antara manusia berwatak angkuh dan takabur. Mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri. K.H. Ahmad Dahlan heran kenapa pemimpin agama dan yang tidak beragama selalu hanya beranggap, mengambil keputusan sendiri tanpa mengadakan pertemuan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memperbincangkan mana yang benar dan mana yang salah. Hanya anggapan-anggapan saja, disepakatkan dengan istrinya, disepakatkan dengan muridnya, disepakatkan dengan teman-temannya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permusyawaratan dengan golongan lain di luar golongan masing-masing untuk membicarakan manakah yang sesungguhnya yang benar dan manakah sesungguhnya yang salah.
Ketiga; Manusia kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian menjadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai. Kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik dari sudut i’tiqat, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian itu karena anggapannya bahwa apa yang dimilikinya adalah benar.
Keempat; Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus sama-sama menggunakan akal pikirannya untuk memikirkan bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mempergunakan pikirannya untuk mengoreksi soal i‘tikad dan kepercayaannya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran yang sejati.
Kelima; Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang bermacam-macam membaca beberapa tumpuk buku dan sudah memperbincangkan, memikirkan, menimbang, membanding-banding ke sana ke mari, barulah mereka dapat memperoleh keputusan, memperoleh barang benar yang sesungguhnya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar. Sekarang kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir, kalau barang yang benar, akan terpisah dan apa-apa yang sudah menjadi kesenangannya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya.
Keenam; Kebanyakan para pemimpin belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolongnya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasanya hanya mempermainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah.
Ketujuh; Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek). Dalam mempelajari kedua ilmu itu supaya dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum bisa mengerjakan maka tidak perlu ditambah.
Bagi Ahmad Dahlan, ajaran Islam tidak akan membumi dan dijadikan pandangan hidup pemeluknya, kecuali dipraktikkan. Betapapun bagusnya suatu program, menurut Dahlan, jika tidak dipraktikkan, tak bakal bisa mencapai tujuan bersama. Karena itu, Ahmad Dahlan tak terlalu banyak mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur’an, tapi ia lebih banyak mempraktekkannya dalam amal nyata.[9]
Tafsirnya Ahmad Dahlan atas surat Ali ’Imran Ayat 104, basis teologis organisasi modern sebagai instrumen ritus dan pemecahan problem kehidupan manusia, tidak dtemukan dalam tafsir klasik.
Artinya: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali Imran; 104).[10]
Demikian pula tafsir surat Al-Ma’un sebagai referensi aksi pemberdayaan kaum tertindas atas pertimbangan pragmatis dan humanis, seperti aksi pemberdayaan kaum perempuan di ruang publik.
Artinya : Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
Kecenderungan ideologisasi tafsir Salafi di atas bisa dilihat dari tumpang tindih ajaran Islam otentik dan ajaran Islam sebagai tasfir tersebut. Keyakinan kebenaran mutlak dan kesempurnaan ajaran Islam kemudian diterapkan pada tafsir Salafi yang dikukuhkan melalui hierarki kekudusan sejarah yang menempatkan generasi sahabat lebih kudus dan lebih benar dari generasi tabi’in (pascasahabat) dan seterusnya.
Gagasan genial Dahlan mencairkan hegemoni tafsir Salafi yang secara otentik tidak bisa dirujukkan pada Abduh, Rasyid Ridla, dan Afghani, apalagi Wahabi. Rasionalitas pemahaman dan praktik ritus mungkin diambil dari tokoh pembaru, tapi inovasi kreatif pragmatis-humanis pemihakan pada kaum tertindas diambil dari pengalaman kaum Kristiani di Tanah Air. Lebih penting lagi ialah pengalaman induktif kemanusiaan universal Kiai sendiri yang mendasari hampir seluruh gagasan dan kerja sosialnya.
Sulit dicari contohnya dalam sejarah pemikiran Islam ketika Kiai mendirikan organisasi dan berbagai model pemberdayaan perempuan, kaum proletar dan tertindas (mustadl’afin). Sayang, model gerakan yang belakangan populer di kalangan LSM itu kini semakin terasing dari kegiatan Muhammadiyah ketika gerakan ini tumbuh besar.
IV. Gagasan Pemikiran
Pembaharuan Lewat Politik
Sebelum Muhammadiyah berdiri, Kiai Ahmad Dahlan telah melakukan berbagai kegiatan keagamaan dan dakwah. Tahun 1906, Kiai diangkat sebagai khatib Masjid Besar Yogyakarta dengan gelar Ketib Amin oleh Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam usianya yang relatif muda sekitar 28 tahun, ketika ayahanda Kyai mulai uzur dari jabatan serupa[11]. Satu tahun kemudian (1907) Kiai memelopori Musyawarah Alim Ulama. Dalam rapat pertama beliau menyampaikan arah kiblat Masjid Besar kurang tepat.
Tahun 1922 Kiai membentuk Badan Musyawarah Ulama. Tujuan badan itu ialah mempersatukan ulama di seluruh Hindia Belanda dan merumuskan berbagai kaidah hukum Islam sebagai pedoman pengamalan Islam khususnya bagi warga Muhammadiyah. Badan Musyawarah ini diketuai RH Moehammad Kamaludiningrat, penghulu Kraton. Meskipun pernah berbeda pendapat, Moehammad Kamaludiningrat ini yang mendorong para pimpinan Muhammadiyah kemudian membentuk Majelis Tarjih (1927). Majelis ini diketuai Kiai Mas Mansur. Dengan tujuan dakwah agar manusia berfikir dan tertarik pada kebagusan Islam melalui pembuktian jalan kepandaian dan ilmu.
Tahun 1909, Kiai Ahmad Dahlan bergabung dengan Boedi Oetomo. Tujuannya selain sebagai wadah semangat kebangsaan, juga untuk memperlancar aktivitas dakwah dan pendidikan Islam yang dilakukannya. Ketika Muhammadiyah terbentuk, bahkan 7 orang pengurusnya menyusul bergabung dengan Boedi Oetomo. Hubungan Muhammadiyah dengan Boedi Oetomo sangat erat, sehingga Kongres Boedi Oetomo tahun 1917 diselenggarakan di rumah Kiai Ahmad Dahlan.
Di sisi lain Dr. Soetomo pendiri Boedi Oetomo juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah dan menjadi Penasehat (Adviseur Besar) Muhammadiyah. Dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 (Surabaya), Dr.Soetomo memberikan ceramah (khutbah) dengan tema Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Khutbah ini yang mendorong lahirnya PKO dengan rumah sakit dan panti asuhannya kemudian. Dr.Soetomo pun membantu memperlancar pengesahan berdirinya Muhammadiyah, tiga tahun setelah berdirinya.
Untuk mengetahui informasi perkembangan pemikiran di Timur Tengah Ahmad Dahlan menjalin hubungan intensif melalui Jami’at Khair dan masuk menjadi anggotanya pada tahun 1910. Ketika Syarikat Islam berdiri, Ahmad Dahlan pun ikut serta menjadi anggota.[12]
Rupannya dengan masuknya Ahmad Dahlan pada semua organisasi tersebut di atas dakwahnya semakin meluas dan mendapat respon positif dan di dukung oleh kalangan modernis dan perkotaan. Dari sinilah Ahmad Dahlan mendapat masukan dari berbagai pihak, yang akhirnya pada tanggal 18 November 1912 Ahmad Dahlan mendirikan wadah gerakan bagi pikirannya yaitu “Muhammadiyah”
Pembaharuan Lewat Pendidikan
Atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut:
KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam;
Usahanya `memberi warna” pada Budi Utomo yang cenderung kejawen dan sekuler, tidaklah sia-sia. Terbukti kemudian dengan munculnya usulan dari para muridnya untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri, lengkap dengan organisasi pendukung.
Hal itu dimaksudkan untuk menghindari kelemahan pesantren yang biasanya ikut mati jika kiainya meninggal. Maka pada 18 Nopember 1912 berdirilah sekolah Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Diniyah. Sekolah tersebut mengambil tempat di ruang tamu rumahnya sendiri ukuran 2,5 x 6 M di Kauman.
Madrasah tersebut merupakan sekolah pertama yang dibangun dan dikelola oleh pribumi secara mandiri yang dilengkapi dengan perlengkapan belajar mengajar modern seperti; bangku, papan tulis, kursi (dingklik; kursi berkaki empat dari kayu dengan tempat duduk panjang), dan sistem pengajaran secara klasikal.
Cara belajar seperti itu, merupakan cara pengajaran yang asing di kalangan masyarakat santri, bahkan tidak jarang dikatakan sebagai sekolah kafir. Pernah dia kedatangan seorang tamu guru ngaji dari Magelang yang mengejeknya dengan sebutan kiai kafir, dan kiai palsu karena mengajar dengan menggunakan alat-alat sekolah milik orang kafir. Kepada guru ngaji yang mengejeknya itu Dahlan sempat bertanya, “Maaf, Saudara, saya ingin bertanya dulu. Saudara dari Magelang ke sini tadi berjalankah atau memakai kereta api?”
“Pakai kereta api, kiai,” jawab guru ngaji. “Kalau begitu, nanti Saudara pulang sebaiknya dengan berjalan kaki saja,” ujar Dahlan. “Mengapa?” tanya sang tamu keheranan. “Kalau saudara naik kereta api, bukankah itu perkakasnya orang kafir?” kata Dahlan telak.
Di sinilah Ahmad Dahlan menerapkan Al Qur’an surah 96 ayat 1 yang memberi penekanan arti pentingnya membaca, diterjemahkan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Ahmad Dahlan berfikir dengan pendidikan buta huruf diberantas. Apabila umat Islam tidak lagi buta huruf, maka mereka akan mudah menerima informasi lewat tulisan mengenai agamanya.
Pembaharuan Pemikiran Budaya
Ketika Grebeg Hari Raya dalam tradisi Kraton Yogyakarta jatuh sehari sesudah hari raya Islam, Kiai meminta menghadap Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Tengah malam, diantar Kanjeng Kiai Penghulu, Dahlan diterima Sang Raja dalam sebuah ruang tanpa lampu. Setelah Dahlan menyampaikan usul agar Grebeg diundur sehari, Raja bersabda bahwa Grebeg dilaksanakan sesuai dengan tradisi Jawa, Dahlan dipersilakan menyelenggarakan shalat Hari Raya sehari lebih dahulu.
Kiai begitu terkejut mendapati ruang paseban penuh dengan pangeran dan pejabat kerajaan mendampingi Raja saat lampu ruang paseban dinyalakan. Sang Raja kembali bersabda bahwa pemadaman lampu itu sengaja dilakukan agar Dahlan tidak merasa kikuk saat menyampaikan usulnya kepada Raja.
Hubungan harmonis Dahlan dan pusat kekuasaan Jawa cukup unik dan menarik dikaji ketika kerajaan dipandang sebagai pusat tradisi Kejawen yang penuh mistik. Kelahiran Muhammadiyah sendiri berkait dengan kebijakan Hamengku Buwono VII dan VIII. Kepergian Dahlan naik haji dan bermukim di Mekkah adalah perintah langsung Sri Sultan Hamengko Buwono VII. Raja memandang penting Raden Ngabei Ngabdul Darwis (nama kecil Ahmad Dahlan) belajar Islam dari asal kelahirannya. Sepulang haji, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memerintahkan Dahlan bergabung dalam Boedi Oetomo. Reformasi Islam pun mulai berlangsung dari sini.
Konflik keras justru muncul dalam komunitas Kauman dari ulama senior dan Kiai Dahlan. Disharmoni Muhammadiyah dan pusat kekuasaan Jawa mulai muncul ketika gerakan ini memperkuat ortodoksi Fikih sesudah pendirinya wafat tahun 1923. Gerakan pembaruan Islam kemudian berkembang berhadap-hadapan dengan pusat kekuasaan Jawa.
Suasana sosial politik yang melingkupi kehidupan Dahlan di atas berbeda dengan pembaru Islam Saudi Arabia, Mesir, Iran, Afganistan, Aljazair, Pakistan, atau India. Jika para pembaru itu banyak berhubungan dengan pusat kebudayaan Eropa (Perancis dan Inggris), Kiai memperoleh pendidikan di lingkungan kerajaan. Interaksinya dengan elite kerajaan, pejabat kolonial, priayi Jawa, pendeta, dan pastor memberi ruang lebih luas menjelajahi berbagai persoalan dunia global atau nasional dan lokal.
Pembaharuan Pemikiran Ekonomi
Tulisan pembaharuan pemikiran ekonomi Ahmad Dahlan, penulis kurang mendapat reverensi buku yang cukup untuk mengupasnya. Untuk itu penulis mengambil inisiatif mengambil dan menyampaikan kembali artikel Sutia Budi yang berjudul “Gerakan Ekonomi Muhammadiyah; Sebuah Gugatan” 3 September 2007[13], dengan sentuhan pikiran penulis.
Jiwa ekonomi terlihat dari profil kehidupan KH. Ahmad Dahlan yang bekerja sebagai pedagang batik (bussinessman) di samping kegiatan sehari-harinya sebagai guru mengaji dan khatib. KH. Ahmad Dahlan sering melakukan perjalan-an ke berbagai kota untuk berdagang. Dalam perjalanan bisnisnya, KH. Ahmad Dahlan selalu membawa misi dakwah Islamiyah.
Kepada para aktivis organisasi dan para pendukung gerakannya, KH. Ahmad Dahlan berwanti-wanti: “Hidup-hidupilah Muhammad-iyah, dan jangan hidup dari Muhammadiyah”. Himbauan ini menimbul-kan konsekuensi tertentu. Menurut Dawam Raharjo mengatakan, konsekuensi yang lain adalah bahwa untuk memperjuangkan kepentingan ekonominya, mereka harus memajukan usahanya agar bisa membayar zakat, shadaqah, infaq atau memberi wakaf, warga Muhammadiyah harus menengok ke organisasi lain. Pada waktu itu, yang bergerak di bidang sosial-ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam (SDI), kemudian bernama Sarekat Islam (SI) itu. Itulah sebabnya warga Muhammadiyah sering berganda keanggotaan, Muhammadiyah dan Sarekat Islam.
Pada tahun 1921, Muhammadiyah memprogramkan perbaikan ekonomi rakyat, salah satunya adalah dengan membentuk komisi penyaluran tenaga kerja pada tahun 1930. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1959 mulai dibentuk jama’ah Muhammadiyah di setiap cabang dan terbentuknya dana dakwah. Program-program ekonomi yang dirancang ternyata menjadi dorongan untuk terbentuknya Majelis Ekonomi Muhammadiyah.
Namun, sebagaimana diungkap Mu’arif (2005:223), dalam persoalan ekonomi ini, Persyarikatan Muhammadiyah mengalami posisi dilematis. Di satu sisi, visi ekonomi ketika hendak membangun perekonomian yang tangguh haruslah didasarkan pada profesionalisme. Adapun untuk mengantarkannya pada profesionalisme itu biasanya menggunakan cara yang mengarah pada dunia bisnis kapitalis. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan visi kerakyatan yang pada awal berdirinya persyari-katan menjadi agenda utama.
Pembaharuan Bidang Sosial
Praktek amal nyata yang fenomenal ketika menerapkan apa yang tersebut dalam surah Al Maun yang secara tegas memberi peringatan kepada kaum muslimin agar mereka menyayangi anak-anak yatim dan membantu fakir miskin. Aplikasi surah al Ma’un ini adalah terealisirnya rumah-rumah yatim dan menampung orang-orang miskin.
Ketika menerapkan Al Qur’an surah 26 ayat 80, yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan sakit seseorang, maka didirikannya balai kesehatan masyarakat atau rumah sakit-rumah sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberi perawatan pada masyarakat umum, bahkan yang miskin digratiskan, juga memberi penyuluhan, betapa pentingnya arti sehat.[14]
V. Relefansi Pemikiran Ahmad Dahlan pada Konteks Kekinian
Kontinuitas dan perubahan merupakan dua ciri yang menonjol dari perkembangan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20. Kontinuitas mewujudkan diri dalam kecenderungan kaum muslim untuk : (1) melestarikan pelbagai kepercayaan dan praktik (keagamaan), yang sebagian besar tidak bisa diterima di daerah-daerah tertentu; dan (2) membatasi Islam hanya dalam bentuk ritual dan tidak menginspirasikan perubahan dalam kehidupan sosial, kultural dan material.[15]
Muhammadiyah yang selalu di “elu-elukan” oleh warga persyarikatan maupun banyak orang diluar persyarikatan sebagai ormas terkaya dalam bidang amal usaha, gerakan Islam modernis, dan ormas terbesar nomor dua di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama, ternyata memiliki krisis legitimasi dari para pengikutnnya. Hal ini ditunjukkan dengan polarisasi keyakinan dan bahkan pembangkangan terhadap manhaj Muhammadiyah ditingkat basis, seperti cabang dan ranting. Hal serupa juga tidak menutup kemungkinan dengan munculnya kecenderungan yang sama dan para pimpinan diberbagai tempat yang saat sekarang duduk sebagai pejabat teras di Pimpinan Daerah sampai Pusat.[16]
Layaknya bakteri atau virus yang begitu cepat menyebar dan tidak pandang bulu untuk menyerang paradigma pengurus Muhammadiyah saja, melainkan para aktivis mudanya pun telah tertular kegenitan virus politik praktis.
Disinilah, bentuk-bentuk penjarahan anggota dan kader muda Muhamnaadiyah secara besar-besaran terjadi. Mereka yang di “gadang gadang” sebagai resources dan pelopor baru Muhammadiyah ternyata juga mengalami pembangkangan terhadap organisasi induknya.
Menurut hemat penulis, porak porandanya sistem maupun kondisi internal ini dikarenakan belum maksimalnya para pimpinan Muhammadiyah untuk menjawab kebutuhan – moral maupun spiritual – kadernya. Segala bentuk gagasan bertema purifikasi dan pembaharuan yang melangit dalam segala bidang selalu dikedepankan. Hal ini menjadikan para pimpinan terjebak dan bahkan tercerabut dari akar permasalahan. Peran mubaligh Muhammadiyah dengan sendirinya telah tergeser dengan munculnya para intelektual (meminjam istilah Kuntowijoyo) muslim tanpa masjid.
Para cendekiawan muslim Muhammadiyah ini terlahir dari rahim forum-forum ilmiah keagamaan, buku-buku ke-Islaman dan berbagai media yang menunjang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Tak pelak jika terkadang para cendekiawan produk Muhammadiyah ini gagap dalam menjawab masalah-masalah fundamental persyarikatan khususnya dan masyarakat umumnya.
Masih mungkinkah Persyarikatan Muhammadiyah membangkitkan kembali kesadaran solidaritas umat Islam dengan metode K.H. Ahmad Dahlan. Dengan menggunakan Al Qur’an Surat Al Maun terhadap rasa kepeduliannya dan solidaritasnya terhadap sesama. Mungkinkah di tengah masyarakat objek dakwah Persyarikatan Muhammadiyah, masyarakatnya sedang diterpa budaya hedonisme dan sekulerisme, kembali ke ajaran Islam?
Masih mampukah Persyarikatan Muhammadiyah membangkitkan kembali kesadaran berpartisipasi aktif menciptakan masyarakat bermartabat, dengan memedulikan duka nestapa yang diderita oleh anak yatim piatu dan fakir miskin korban kebijakan struktural? Kita tahu, Persyarikatan Muhammadiyah sekarang sudah membangun sarana pendidikan dari play group hingga perguruan tinggi serta pesantren modern. Akan tetapi, masih adakah guru dan dosen serta “dokter pejuang” seperti zaman K.H. Ahmad Dahlan. Kebijakan pendidikan Persyarikatan Muhammadiyah terlihat cenderung berorientasi memenuhi kebutuhan pendidikan untuk sesama, need of union, dengan sistem pendidikan pada umumnya.
sungguh, K.H. Ahmad Dahlan sedang menangis. Di tengah kegalauan kehidupan kota, pelayanan masyarakat bawah dari Persyarikatan Muhammadiyah tidak dikenal oleh masyarakat. Hal itu tergantikan pelayanannya oleh Dompet Dhuafa (DD), Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Rumah Zakat Indonesia Dompet Sosial Ummul Quro (RZI DSUQ) dan sejenisnya. Realitas yang demikian ini, agaknya menjadikan K.H. Ahmad Dahlan menangis. Karena, Persyarikatan Muhammadiyah telah kehilangan aktivis dakwahnya yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat kota dan desa.[17]
VI. Tinjauan Kritis Pemikiran Ahmad Dahlan
Abdul Munir Mulkhan dalam beberapa kajiannya tentang geneologi intelektualitas Ahmad Dahlan mencatat adanya korelasi ideologis dalam beberapa pemikiran pendiri gerakan Muhammadiyah ini dengan pemikiran Ibn Taimiyah. Pokok-pokok pandangan Ibn Taimiyah yang dinilai mempunyai pengaruh besar terhadap dinamika gerakan pembaharuan di dunia Islam, dan Ahmad Dahlan pada khususnya ialah:
1. Satu–satunya kunci untuk memahami Islam adalah al Quran dan Sunnah Rasul.
2. Ijtihad sebagai upaya memahami Islam dari sumber primer (al Quran dan sunnah) merupakan proses tidak pernah selesai.
3. Ummat Islam tidak harus dipimpin oleh hanya seorang khalifah.
4. Usaha yang dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan kemampuan akal dan kecerdasan berpikirnya semata–mata untuk menemukan dan mencapai kebenaran mutlak, adalah suatu usaha yang mustahil.
Untuk memperoleh pemahaman yang tepat terhadap al Quran dan sunnah, perlu mempergunakan pendekatan dan contoh yang dilakukan oleh golongan salaf yang merupakan generasi pertama ummat Islam.
Gerakan reformasi Islam dalam dunia Arab modern dimulai dan disemai oleh para pemikir-pemikir Muslim rasionalis semenjak Rifa’at Tahtawi dan al-Tunisi. Puncaknya dalam gerakan pembaharuan Muhammad ‘Abduh. Dan `Abduh adalah cikal-bakal gerakan reformis yang ada sekarang ini. Hanya, kecenderungan dikotomis untuk menjadi “kiri” atau “kanan” dalam madzhab ‘Abduh semakin intens. Kelompok kiri penerus ‘Abduh semakin lama semakin kiri (menjadi sekular), dan kelompok kanan juga terus semakin kanan, atau memutuskan diri sama sekali dari kerangka ajaran sang imam, yaitu menjadi fundamentalis.
Wawasan keberagamaan Dahlan mengedepankan sikap inklusivitas, pluralitas dan relativitas dalam memandang sebuah pemahaman kebenaran. Kepribadian Dahlan ini sangat mewarnai corak penampilan Muhammadiyah pada fase–fase awal. Beliau menafsirkan Islam sebagai realitas yang dinamis dan hidup. Tafsir sosial Islam yang dilakukan Dahlan menyuarakan kepentingan pemihakan kepada konstruksi-konstruksi sosial yang marjinal, terjajah, dan tertindas oleh sebuah sistem otoritas/struktur sosial yang opresif.[18]
Menurut Munir Mulkhan, kesatuan kemanusiaan di atas merupakan dasar berbagai gagasan KH. Dahlan tentang sikap kritis terhadap kebenaran yang selama ini diyakini pemeluk agama dan pemimpin agama. Begitu pula pemikiran tentang pentingnya sikap terbuka dan kesediaan untuk belajar kepada orang lain, walaupun kepada orang yang berbeda agama. Tampak jelas bahwa bagi KH. Ahmad Dahlan, Islam merupakan ajaran untuk pencapaian kesejahteraan dan perdamaian seluruh umat manusia.
[1] Jajang Jahroni, Modernisme dan Radikalisme Islam di Indonesia: Menafsirkan Warisan Muhammad Abduh dan Rashīd Ridhā (Book Riview: Giora Eliraz, Islam in Indonesia, Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension, Great Britain: Sussex Academic Press, 2004, xi + 142 pages), Studia Islamika, Vol. 11, No. 3, 2004, Hlm. 577.
[2] Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam, Pengantar ke Gerbang Pemikrian, diterjemahkan dari “The Elements of Islamic Philosophy, Bandung, Nuansa, 2004, hlm. 23-24.
[3] Ensiklopedi Islam/penyusun, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Cet.4, Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, hlm.83.
[4] Wikipedia, Ensiklopedia Bebas, kata kunci: http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan
[5] Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.8.
[6] Abdul Munir Mulkhan, Pemikiran Kyai Ahmad Dahlan dan Muhamadiyah; dalam perspektif perubahan sosial, Cet.I, Jakarta, Bumi Aksara, 1990,hlm.6
[7] Abdul Munir Mulkhan, Etika Welas Asih dan Reformasi Sosial Budaya Kiai Ahmad Dahlan, (Artikel publikasi)” Yogyakarta
[8] Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.9.
[9] Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.11.
[10] Al Quran Terjemahan Elektronik, Surat Ali Imran, Ayat, 104.
[11] Abdul Munir Mulkhan, Pemikiran Kyai Ahmad Dahlan dan Muhamadiyah; dalam perspektif perubahan sosial, Cet.I, Jakarta, Bumi Aksara, 1990,hlm.17.
[12] Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.10.

Pokok Pemikiran KH Ahmad Dahlan

Pokok Pemikiran KH Ahmad Dahlan

Berdirinya Muhammadiyah tidak dapat lepas dari pribadi pendirinya yaitu KH Ahmad Dahlan. Sebelum membahas lebih jauh tentang pokok-pokok pemikiran dan perspektif keagamannya, lebih dulu saya uraikan singkat tentang beliau.

kh ahmad dahlan.jpg

KH Ahmad Dahlan dilahirkan di Kauman Yogyakarta tahun 1285 H/1869 M. Ayahnya bernama KH Abu Bakar, seorang khatib Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta. Bila silsilahnya dirunut lebih jauh, maka ditemukan keterangan bahwa ia adalah keturunan Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 8 April 1418 M., yang disemayamkan di Gresik.

Adapun bila dilihat dari latar belakang pendidikannya, KH Ahmad Dahlan dapat dikatakan tidak pernah memasuki sekolah secara formal. Lalu dari mana perspektif keagamaan dan wawasan keilmuan yang dimilikinnya ia peroleh? Perspektif keagamaan dan keilmuannya sebagian besar merupakan hasil otodidaknya, hasil belajar yang ia lakukan secara mandiri. Kemampuan membaca dan menulis sebagai persyaratan belajar dalam otodidaknya diperoleh dari keseriusan belajar di bawah asuhan dan bimbingan ayahannya, sahabat, dan saudara-sudara iparnya. Menjelang dewasa, Kyai belajar ilmu fikih kepada KH Muhammad Shaleh, dan belajar ilmu nahwu kepada KH Muhsin dan seorang guru lain, yaitu KH Abdul Hamid. Sementara itu, keahliannya dalam ilmu falaq diperoleh dari berguru kepada KH R. Dahlan , salah seorang putra Kyai Termas. Sedangkan ilmu Hadis yang dikuasainya diperoleh dari KH Mahfud dan Syeikh Khayat.

Pada usia 22 tahun (1890) KH Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji. Kesempatan menunaikan ibadah haji tersebut ia pergunakan sebaik-baiknya untuk belajar pada seorang guru yang bernama Imam Syafi'i Sayid Bakir Syantak di Mekah, selama kurang lebih 2 tahun. Pada tahun 1903 , untuk kedua kalinya Kyai menunaikan ibdah haji bersama putranya : Siraj Dahlan yang masih berumur 13 tahun. Selama 1,5 tahun mereka bermukim di Mekah untuk memperdalam ilmu fiqih dan ilmu hadis. Di samping berguru selama 1,5 tahun di Mekah ia memanfaatkan waktunya untuk belajar dan menguasai berbagai buku dan kitab-kitab yang cukup banyak baik buku yang membahas tentang ilmu kalam dan ilmu fiqih maupun ilmu tasawuf.

Adapun buku ilmu kalam yang ia pelajari ketika itu adalah buku-buku yang berhaluan ahlus sunnah wal jamaah yang mengandung pemikiran filosofis. Sementara buku fiqihnya adalah karya-karya Imam Syafi'i. Sementara untuk kitab tasawufnya ia memilih kitab-kitab yang ditulis Imam Ghazali dan kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Abduh dan Ibnu Taimiyah. Kecuali itu, ia juga pernah bertemu dengan Syeikh Muhammad Rasyid Ridho. Kesempatan pertemuan ini ia manfaatkan untuk berdiskusi dengannya tentang gerakan pembaharuan dalam Islam.

Lalu, bagaiman pokok-pokok pemikiran dan perspektif keagamaannya? Sesungguhnya tidak banyak naskah tertulis dan dokumen yang dapat dijadikan bahan untuk mengkaji dan merumuskan pokok-pokok pemikiran dan perspektif keagamaan KH Ahmad Dahlan. Naskah yang agak lengkap terdapat dalam penerbitan Hoofbestuur Taman Pustaka pada tahun 1932 M, sesaat setelah Kyai wafat. Menurut Majelis Taman Pustaka bahwa naskah di atas sesungguhnya merupakan buah pemikiran orisinil KH Ahmad Dahlan.

Adapun isi dari pokok-pokok pemikiran dan perspektif keagamaan KH Ahmad Dahlan berdasarkan dengan sumber dan bahkan yang disebut di atas adalah sebagai berikut :
  1. Dalam bidang Akidah, pandangan KH Ahmad Dahlan sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama salaf.
  2. Menurut perspektif KH Ahmad Dahlan, bahwa beraga adalah beramal. Artinya, bahwa beragama itu berkarya dan berbuat sesuatu: melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman al-Qur'an dan Sunnah. Dalam pengertian ini, orang yang beragama adalah orang yang menghadapkan jiwa dan hidupnya hanya dengan kepada Allah Swt., yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan, seperti rela berkorban, baik dengan harta benda miliknya atau dengan ilmunya, dan bekerja dalam berbagai segi kehidupan hanya karena dan untuk Allah semata.
  3. Dasar pokok (sumber pokok) hukum Islam menurut KH Ahmad Dahlan adalah al-Qur'an dan Sunnah. Jika dari keduanya tidak diketemukan kaidah hukum yang eksplisit, maka ditentukan berdasarkan kepada penalaran dengan mempergunakan kemampuan berpikir logis (akal pikiran) serta ijma' dan qiyas.
  4. Dalam pandangan KH Ahmad Dahlan terdapat 5 jalan untuk memahami al- Qur'an, yaitu : mengerti artinya, memahami maksudnya (tafsir), selalu bertanya pada diri sendiri, apakah larangan agama yang telah diketahui telah ditinggalkan dan apakah perintah agama yang dipelajari sudah dikerjakan atau belum, tidak mencari ayat lain sebelum isi ayat sebelumnya dikerjakan.
  5. KH Ahmad Dahlan menyatakan bahwa tindakan nyata adalah wujud konkrit dari hasil penerjemahan al-Qur'an dan organisasi adalah wadah tindakan nyata tersebut. Untuk memperoleh pemahaman demikian, orang Islam harus selalu memperluas dan mempertajam kemampuan akal pikiran dengan ilmu logika atau ilmu mantik (mantiq)
  6. Sesuai dengan dasar pemikiran bahwa sesorang itu perlu suka dan bergembira, maka orang tersebut harus yakin bahwa mati adalah bahaya, akan tetapi lupa kematian merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari kematian itu sendiri. Disamping itu, kyai menyatakan selanjutnya, bahwa harus ditanamkan dalam hati seseorang ghirah dan gerak hati untuk maju dengan landasan moral dan ikhlas dalam beramal.
  7. Kunci persoalan kehidupan adalah peningkatan kualitas hidup dan kemajuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat ( dalam kaitannya dengan pandangan ini kyai menyampaikan pesan kepada umat untuk menjadi insinyur, guru, master dan untuk kembali berjuang dalam Muhammdiyah)
  8. Pembinaan generasi muda (kader) dilakukan kyai dengan jalan interaksi langsung. Untuk melaksanakan teorinya tersebut, kyai mendirikan kepanduan yang selanjutnya diberi nama Hisbul-Wathan(HW)
  9. Strategi menghadapi perubahan sosial akibat modernisasi adalah merujuk kepada al-Qur'an, menghilangkan sikap fatalisme, dan sikap taqlid. Strategi tersebut dilaksanakan dengan menghidupkan kiwa dan semangat ijtihad melalui peningkatan kemampuan berpikir logis-rasional dan mengkaji realitas sosial.
Muhammadiyah simbol gambar.jpeg

Bila dilihat secara seksama  tentang latar belakang pendidikan KH Ahmad Dahlan dan beberapa pokok pemikiran dan perspektif keagamannya di atas, maka dapat dikatakan bahwa ada dua faktor dominan yang mempengaruhi dan membentuk pribadi KH Ahmad Dahlan. Dua faktor tersebut adalah faktor internal di satu sisi dan faktor eksternal di sisi lain. Fakor internal nya berupa motivasi dan keseriusannya dalam belajar dan mendalami berbagai ilmu, seperti ilmu hadist hadist, ilmu fiqih, ilmu falaq, ilmu kalam, dan ilmu tasawuf. Sedangkan untuk faktor eksternalnya berupa bimbingan yang selama ini ditekuninya.

Sumber :  Lembaga Studi Islam (LSI), 1998. Studi Kemuhammadiyahan, kajian historis, ideologi dan organisasi. Surakarta

 

Kisah Kedekatan KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan


Red: Erik Purnama Putra
Antara
Kiprah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan.
Kiprah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan dua ormas Islam terbesar di Tanah Air. Baik NU dan Muhammadiyah sama-sama sedang menyelenggarakan perhelatan lima tahunan. Muktamar NU ke-33 digelar di Jombang pada 1-5 Agustus, dan Muktamar Muhammadiyah ke-47 dihelat di Makassar pada 3-7 Agustus.

Ternyata, pendiri NU dan Muhammadiyah memiliki keterkaitan satu sama lain. KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan sama-sama menuntut ilmu dari guru yang sama.

Berikut penjelasan di akun Facebook Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Fahmi Salim tentang sepak terjang KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan dalam menegakkan Islam di Indonesia sejak sebelum bangsa ini merdeka, yang dikutip dari Ustaz Salim A. Fillah:

Menyambut Muktamar NU dan Muhammadiyah..

Sebuah bincang tentang 4 orang murid Syaikhana Cholil Bangkalan yang akan jadi tonggak dakwah Indonesia. Dari 4 orang murid Syaikhana Cholil itu, NU, Muhammadiyah,MIAI dan Masyumi terpondasi.

1. Awal 1900-an 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kyai Cholil di Bangkalan Madura. Menyeberangi selat, 2 ke Jombang, 2 ke Semarang.

2. Dua murid yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi KH Romli (ayah KH Mustain Romli) dibekali pisang mas.

3. Dua murid yang ke Semarang; Hasyim Asy'ari & Muhammad Darwis, masing masing diberi kitab untuk dingajikan pada Kya Soleh Darat.

4. Kyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak; keluarga besar RA Kartini mengaji pada beliau. Bahkan atas masukan Kartini-lah, Kyai Soleh Darat menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa agar bisa difahami.

5. Pada Kyai Soleh Darat, Hasyim dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan) belajar tekun dan rajin,lalu 'diusir'. Kedua sahabat itu; Hasyim Asy'ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kyai Soleh Darat segera ke Mekkah untuk menlanjutkan belajar.
6. Setiba di Mekkah, keduanya nan cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadist, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam.

7. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang. Saya akan melompat pada kepulangan mereka ketanah air & gerakan nan dilakukan.

8. Hasyim Asy'ari pulang ke Jombang. Disana kakek Cak Nun (yang maafkan saya terlupa namanya) menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun nan 'sakti' inilah yang menaklukkan kawasan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren.

9. Hasyim Asy'ari dia mohon agar mulai berkenan mulai mengajar disitu. Beliau membuka pengajian 'Shahih Al Bukhari' disana.
10. Fahamlah kita, satu satunya orang yang bisa bujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment dulu ya Cak Nun. Ini soal nasab
11. Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya jawab: "saya kok disuruh mundur, maju aja susah, harus dituntun!". Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau "Gus,koen wis wayahe munggah pangkat!" Sudah saatnya naik jabatan!".
12. KH Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqoh Al Mu'tabarah yang disegani.

13. Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy'ari, CATAT INI : beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadist penting & terhormat. Sebelum Hadratusy Syaikh memulai ponpes Tebuireng-nya dengan kajian Shahih Al Bukhari, umumnya ponpes cuma ajarkan tarekat.

14. Tebuireng makin maju, santri berdatangan dari seluruh nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kyai Hasbullah, Tambakberas. Putra Kyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak jadi pendiri organisasi islam terbesar yang dinisbatkannya pada Hadratusy Syaikh :NU. Konon selama KH Abdul Wahab Hasbullah dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan Al-Quran 100 kali diperdengarkan pada si janin.

15. Tebuireng juga berhubungan baik dengan KH Bisyri Syamsuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gus Dur).
 16. KH Bisyri Syansuri juga beriparan dengan KH Abdul Wahab Hasbullah. Inilah segitiga pilar NU; Tambakberas - Tebuireng - Denanyar.

17. Satu waktu ada santri Hadratusy Syaikh melapor, dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama & aktif beramal usaha. "O kuwi Mas Dahlan", ujar Hadratusy Syaikh "Ayo padha disokong"!". Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung sepenuhnya.

18. KH Ahmad Dahlan sang putra penghulu keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab.

19. Sampai generasi ke-4, putra putri Tebuireng yang kuliah di Yogya selalu kos di keluarga KH Ahmad Dahlan Kauman (Gus Dur juga).

20. Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan KH Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab 'Munkarat Maulid Nabi wa Bida'uha', bagi Hadratusy Syaikh, itu banyak bid'ah & mafsadatnya. UNIK: satu satunya Kyai NU yang tidak diperingati HAUL nya ya beliau.
21. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan. "Kita & Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil PENDAPAT 'ulama Salaf'), mereka Taqlid Manhaji (mengambil METODE)".

22. Tetapi dipelopori KH Abdul Wahab Hasbullah, para murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah & rekan berangkat ke Mekkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Madzhab. Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah.

23. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, KH Mas Mansur -Muhammadiyah- & tokoh lain, terbentuklah Majlisul Islam A'la Indunisiya (MIAI).

24. Mengapa kisah Khalil dari Bangkalan & murid muridnya penting? Agar terjaga fikiran, lisan & perkataan kita yang mengaku pewaris dakwah hari ini.

25. Yang tidak memahami sejarah, nasab keluarga & sanad ilmu akan kesulitan memahami & membawakan dakwah pada kalangan tertentu.

26. Jika kini sebagian santri yang bernasab baik & bernasab ilmu itu jadi Liberal; naiflah memusuhi tanpa kelayakan untuk didengar kalangannya
Mungkin masih banyak yang belum mengetahui bahwa organisasi bernama Muhammadiyah sebetulnya lahir pada tanggal 12 Nopember 1912. Saat itu Muhammadiyah resmi di dirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta. Kemudian Muhammadiyah mendapatkan surat izin pendirian persyarikatan pada tanggal 18 Nopember 1912 dari Kesultanan Yogyakarta. Setelah itu pada tanggal 20 Desember 1912, KH. Ahmad Dahlan mengurus izin kepada pemerintahan Hindia Belanda agar Persyarikatan Muhammadiyah memiliki badan hukum yang resmi. Selang dua tahun kemudian izin itu keluar tepatnya pada yanggal 22 Agustus 1914. Sadar akan pergerakan Muhammadiyah dalam pendidikan dan potensi amal usaha lainnya, pemerintah Hinda Belanda hanya mengizinkan Muhammadiyah bergerak hanya di daerah Yogyakarta. Untuk mengenang jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan tersebut dan bertepatan dengan bulan Nopember, maka penulis mencoba untuk mengumpulkan beberapa serpihan-serpihan sejarah dari berbagai sumber untuk mengenang jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Semoga bisa bermanfaat terutama untuk kaum muda dan bangsa Indonesia. KH. Ahmad Dahlan merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Bahkan diantara beberapa pahlawan lainnya pasangan KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan adalah pasangan suami istri yang mendapatkan gelar pahlawan setelah Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Sangat jarang sekali pasangan suami istri diberikan gelar pahlawan nasional. Maka atas jasa-jasa KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan, mereka diberikan gelar oleh pemerintah Indonesia sebagai pahlawan nasional. KH. Ahmad Dahlan pada saat kecil dikenal dengan nama Muhammad Darwis. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya adalah KH. Abu Bakar, seorang khatib amin Masjid Gedhe Kesultanan Yogyakarta. Ibunya, Siti Aminah pun adalah puteri seorang penghulu dari Kesultanan Yogyakarta. Artinya Muhammad Darwis memang lahir dari keluarga yang cukup berpendidikan dengan latar belakang pendidikan Islam yang cukup kuat. Jika diruntut silsilah keluarganya, Muhammad Darwis masih keturunan Syaikh Maulana Malik Ibrahim salah satu tokoh Wali Songo. Lebih jauh lagi Muhammad Darwis memiliki garis keturunan dari kanjeng Nabi Muhammad SAW, yaitu dari cucu Nabi bernama Hussain bin Ali bin Abi Thalib. Darwis kecil memang sudah dikenal sebagai pribadi yang supel. Bahkan jiwa kepemimpinannya sudah muncul sejak kecil. Dari tujuh bersaudara, Darwis adalah anak laki-laki paling besar dan adik bungsunya menjadi anak laki-laki terakhir dari Pasangan KH. Abu Bakar dan Siti Aminah. Saudara Darwis lainnya adalah perempuan. Darwis kecil memang dipersiapkan sejak dini sebagai pengganti ayahnya kelak menjadi imam Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Maka pada usia 15 tahun pada tahun 1883, Darwis dikirim ke Makkah dan belajar disana selama lima tahun. Saat belajar di Makkah, Darwis mulai mengenal beberapa pemikiran-pemikiran pembaharu tokoh-tokoh Islam dunia diantaranya adalah Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Setelah lima tahun lamanya menimba ilmu di Makkah, Darwis kembali ke tanah air pada tahun 1888. Sepulang dari Makkah, Darwis mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Nama Ahmad Dahlan diberikan oleh gurunya saat mendapatkan ijazah kelulusan setelah belajar di Makkah. Sekembalinya di tanah air, kemudian Ahmad Dahlan menikah dengan sepupunya sendiri Siti Walidah atau yang dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Saat itu umur Ahmad Dahlan baru menginjak usia 21 tahun, sementara Siti Walida berusia 17 tahun. Dari pernikahan tersebut Ahmad Dahlan dikarunia enam orang anak. Setelah menikah Ahmad Dahlan juga berjualan batik. Karena mertuanya adalah seorang pedagang batik selain dikenal sebagai penghulu di Kesultanan Yogyakarta. Dalam bidang wirausaha Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai pedagang yang handal. Beliau memiliki bakat berwirausaha seperti kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1896 kabar buruk pun datang, Ayahanda Dahlan, KH. Abu Bakar meninggal dunia setelah sebelumnya Dahlan ditinggalkan ibunya setahun setelah pernikahannya dengan Siti Walida. Sepeninggal ayahnya, akhirnya Sultan mengangkat Ahmad Dahlan sebagai Khatib Amin di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Saat itu usia Ahmad Dahlan masih terbilang muda, 28 tahun. Disinilah KH. Ahmad Dahlan mulai memberikan pembaharuan di tengah-tengah masyarakat Yogyakarta pada saat itu. Dalam khutbah pertamanya di Masjid Gedhe Yogyakarta, KH. Ahmad Dahlan dengan tegas dan berani melawan arus. KH. Ahmad Dahlan menyampaikan ketidak setujuannya terhadap tradisi-tradisi yang sampai sekarang pun masih ada di Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan beranggapan bahwa Islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sehingga tidak membuat penganutnya mempersulit dirinya sendiri dengan upacara dan sesajen yang tidak pada tempatnya. Pengaruh-pengaruh tersebut ingin dirubah oleh KH. Ahmad Dahlan. Melihat potensi yang begitu besar dari sosok KH. Ahmad Dahlan, Sultan akhirnya mengirim kembali KH. Ahmad Dahlan ke Makkah untuk melaksanakan ibadah Haji. Pada kunjungannya yang kedua ini sosok Syaikh Rashid Ridha lah yang banyak mempengaruhi pemikiran Ahmad Dahlan tentang perjuangan Islam. Rashid Ridha mengingatkan bahwa tradisi di belahan dunia manapun masih tetap ada, bahkan seseorang bisa lebih taat pada tradsinya ketimbang agama yang dianutnya. Pemikiran Rasyid Ridha ini mengingatkan penulis terhadap salah satu guru penulis saat belajar di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Guru tersebut bernama Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. Guru bidang studi Hadis lulusan dari Madinah. Ia juga adalah alumnus Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah, Yogyakarta. Ustadz Ridwan saat itu menjelaskan Bid'ah. Bid'ah itu bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Karena ada juga yang dinamakan dengan Bid'ah Hasanah. Bid'ah sendiri berarti sesuatu yang baru. Contoh bid'ah hasanah adalah sendok. Sendok adalah sesuatu hal yang baru. Sendok merupakan bid'ah, tapi bid'ah hasanah. Bid'ah hasanah inilah yang ternyata ditunjukkan oleh KH. Ahmad Dahlan sekembalinya dari tanah suci. Seperti dikisahkan dalam film sang pencerah karya Hanung Bramantyo, KH. Ahmad Dahlan mulai banyak mengenakan pernak-pernik orang-orang Belanda seperti mulai dari pakaian hingga alas kaki berupa sandal. Meskipun KH. Ahmad Dahlan difitnah berbagai macam hal namun KH. Ahmad Dahlan bergeming. Sesuatu yang baru tidak selamanya buruk. Asal tidak bertentanggan dengan syariat Islam. Saat itu mulai banyak teknologi yang dikembangkan oleh orang-orang Eropa. Pada masa itu segala perkembangan teknologi dan kemajuan zaman dianggap bid'ah dan tidak sesuai dengan Islam. Karena penciptanya dianggap bukan golongan umat Islam. Namun, ternyata ada bid'ah hasanah. Kemajuan teknologi yang bermanfaat tentunya bisa dikategorikan sebagai bid'ah hasanah. Sikap Ahmad Dahlan yang melawan arus ini tentu saja banyak di tentang dan menjadi sorotan beberapa ulama sepuh di Yogyakarta pada saat itu. Yang fenomenal adalah perubahan posisi kiblat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. KH. Ahmad Dahlan sadar bahwa posisi kiblat Masjid Gedhe itu salah, kemudian KH. Ahmad Dahlan berusaha untuk meluruskannya dengan ilmunya. Sayang usaha KH. Ahmad Dahlan dianggap menyalahi aturan. KH. Ahmad Dahlan secara terang-terangan dianggap sudah sesat dan keluar dari Islam pada masa itu. Hingga akhirnya untuk menghindari konflik KH. Ahmad Dahlan mengundurkan diri sebagai Khatib Masjid Gedhe Kauman Yogakarta. Akhirnya KH. Ahmad Dahlan mendirikan langgarnya sendiri bersama murid-muridnya. Selain sebagai seorang pedagang dan ulama, KH. Ahmad Dahlan juga adalah seorang guru yang inovatif. Terbukti KH.Ahmad Dahlan mampu menghipnotis murid-muridnya dengan permainan biolanya yang menawan. Amat sangat jarang ditemui guru seperti KH. Ahmad Dahlan pada masanya. Akhirnya KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah dalam rangka mewujudkan cita-citanya untuk melebarkan sayap dakwah Islam yang rahmatan lil 'alamin. KH. Ahmad Dahlan berharap dengan didirikannya Muhammadiyah umat Islam pada masa itu bisa kembali pada tuntunan agama yaitu Al-Quran dan Al-Hadis. Bukan pada tradisi-tradisi yang mengekang dan menyulitkan ummatnya. Saat itu KH. Ahmad Dahlan menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Muhammadiyah berdiri bukan tanpa rintangan. Cobaan dan ujian harus dilalui oleh KH. Ahmad Dahlan dan keluarga. Cacian, fitnah dan ancaman pembunuhan dihadapi dengan penuh kesabaran oleh KH. Ahmad Dahlan. Ini juga yang dirasakan oleh Rasulullah SAW saat menyebarkan agama Islam di masa-masa sebelum hijrah. Maka sebagai pengikut nabi Muhammad SAW, KH. Ahmad Dahlan tak khawatir karena perjuangan Rasulullah SAW pun lebih perih dan pedih dari apa yang diterima oleh KH. Ahmad Dahlan saat itu. Penulis kembali teringat pesan KH. Drs. Muchtar Adam, Pimpinan dan Pendiri Pesantren Al-Quran Babussalam, Bandung. Beliau mengatakan "Jika kamu tinggal di sebuah daerah dan belum ada fitnah kepadamu maka tinggalkanlah tempat itu. Tapi jika ternyata ditempat itu kamu mendapatkan fitnah maka tetaplah bersabar dan hadapi dengan penuh ketabahan, karena kamu akan sukses berada di tempat itu." KH. Drs. Muchtar Adam pun merasakan hal yang sama seperti KH. Ahmad Dahlan. Lulusan Sastra Arab IKIP Bandung ini pun berkali-kali mendapatkan fitnah dan cobaan saat mendirikan Pesantren Al-Quran Babussalam hingga saat ini. Namun, Ia bergeming. Ia terus melanjutkan perjuangan dan berdakwah didaerah Bandung Utara hingga akhirnya mengantarkan pada puncak karir sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1999-2004. Putra Selayar ini pernah belajar di MMT Kauman, Yogyakarta. Salah satu anak panah Muhammadiyah yang pernah berguru langsung pada tokoh-tokoh Muhammadiyah saat menimba ilmu di Yogyakarta. Sumbangsih Muhammadiyah terhadap negara ini tidak bisa dipandang sebelah mata terutama dalam bidang Pendidikan. Bukti bahwa Muhammadiyah lahir di pelosok-pelosok desa tercermin dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel tersebut juga sudah pernah di filmkan dengan judul yang sama oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. Bahkan mendapatkan beberapa penghargaan di luar negeri. Sebuah sekolah dasar Muhammadiyah di Gantong, Belitong mampu melahirkan maestro hingga bisa melanjutkan pendidikan di Paris. Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang pendidikan. KH. Ahmad Dahlan memahami salah satu surat dalam Al-Quran yaitu surat Al-Maun dengan mendirikan panti asuhan, masjid dan musholla di berbagai tempat. Ayat-ayat dalam Al-Quran bukan hanya sebagai bacaan, tapi diharapkan bisa diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan. Dan KH. Ahmad Dahlan menjadikan dasar Surat Al-Maun ini sebagai ruh gerakan awal Muhammadiyah dalam berdakwah. "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna." (Al-Maun) Bukan hanya sampai disitu saja. KH. Ahmad Dahlan juga memahami surat An-Nahl ayat 93 sebagai dasar untuk mendirikan Aisyiyah bersama istrinya Siti Walidah atau lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. KH. Ahmad Dahlan menyadari bahwa kedudukan antara laki-laki dan perempuan tidaklah berbeda, keduanya sama-sama memiliki tugas dan tanggung jawab dalam berdakwah. Berdirinya Aisyiyah kembali menguatkan posisi Muhammadiyah sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial. Bahkan pendidikan usia dini sudah dimulai sejak Aisyiyah didirikan. Sebuah pemikiran yang melampaui kemampuan organiasasi perempuan pada masanya. Siti Walida memang termasuk perempuan yang cerdas. Bahkan setelah menikah dengan KH. Ahmad Dahlan, pergaulan Siti Walidah menjadi sangat luas karena banyak berkenalan juga dengan tokoh-tokoh nasional pada saat itu. Satu hal yang tidak banyak dibicarakan adalah KH. Ahmad Dahlan pernah menikah dengan tiga orang perempuan lain selain Siti Walidah dengan alasan-alasan tertentu. Istri yang kedua adalah Ray Soetidjah Windyaningrum atau lebih dikenal sebagai Nyai Abdullah. Dari Nyai Abdullah ini KH. Ahmad Dahlan mendapatkan seorang keturunan. Dan pada akhirnya Nyai Abdullah pun memutuskan untuk bercerai dengan KH. Ahmad Dahlan. Istri yang ketiga adalah adik dari Kyai NU di Krapyak Yogyakarta. Kyai Krapyak menghendaki KH. Ahmad Dahlan menikahi adiknya Nyai Rum. Pernikahan ini juga bukan hanya pernikahan antar dua insan, tetapi juga pernikahan antara dua organisasi besar yaitu Muhammadiyah dan NU. Tapi, KH. Ahmad Dahlan tidak mendapatkan keturunan dari pernikahan tersebut. Istri yang keempat adalah Nyai Aisyah, seorang puteri penghulu Ajengan di Cianjur. Dari pernikahan ini KH. Ahmad Dahlan mendapatkan seorang keturunan. Semua pernikahan yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan bukan tanpa alasan. Hal tersebut beliau lakukan karena alasan agama dan dakwah. Tidak lebih dari pada itu. Sosok KH. Ahmad Dahlan adalah sosok yang sangat memahami agama. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan masih tetap menghormati dan menjaga perasaan Siti Walidah sebagai istri pertama. Meskipun Siti Walidah tidak pernah melarang KH. Ahmad Dahlan untuk menikah lagi. Penutup Apa yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan jelas merupakan warisan yang tiada terkira. Semua usaha yang dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan bisa dinikmati hingga anak cucu kita kelak. Sekolah mulai dari tingkat pendidikan usia dini hingga tingkat Pascasarjana dapat diakses berkat Muhammadiyah. Belum lagi amal usaha lainnya seperti Panti Asuhan, Rumah Sakit, Lembaga Amil Zakat dan lain sebaginya. Tidak sedikit pula tokoh nasional yang lahir dari Sekolah-Sekolah dan Organisasi bernama Muhammadiyah. Satu hal yang harus selalu diingat bahwa KH. Ahmad Dahlan pernah berpesan pada keluarganya dan juga sebagai pesan kepada seluruh warga Muhammadiyah "Aku titipkan Muhammadiyah kepadamu. Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah".

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/fikar/kh-ahmad-dahlan-sang-pencerah-pendiri-muhammadiyah_55193c878133111c759de0cf

KH Ahmad Dahlan


Andai saja pada tahun 1868 tidak lahir seorang bayi bernama Muhammad Darwisy (ada literatur yang menulis nama Darwisy saja), Kampung Kauman di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta itu boleh dibilang tak memiliki keistimewaan lain, selain sebagai sebuah pemukiman di sekitar Masjid Besar Yogyakarta. Sejarah kemudian mencatat lain, dan Kauman pada akhirnya menjadi sebuah nama besar sebagai kampung kelahiran seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, Kiai Haji Ahmad Dahlan: Sang Penggagas lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912.
Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tua yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta). Muhammad Darwisy merupakan anak keempat dari tujuh saudara yang lima diantaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Tak ada yang menampik silsilah Muhammad Darwisy sebagai keturunan keduabelas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan terkemuka diantara Wali Songo, serta dikenal pula sebagai pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Demikian matarantai silsilah itu: Muhammad Darwisy adalah putra K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwis. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis.
Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Haji Ahmad Dahlan (suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat nama baru sebagai pengganti nama kecilnya). Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.
Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, saudara sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, K.H. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. K.H. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).
Ahmad Dahlan adalah seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya. Ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri:
“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dari pesan itu tersirat sebuah semangat dan keyakinan yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.
Kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi.
Untuk membangun upaya dakwah (seruan kepada ummat manusia) tersebut, Dahlan gigih membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, dan juga untuk meneruskan dan melangsungkan cita-citanya membangun dan memajukan bangsa ini dengan membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan ummat Islam di Indonesia.
Strategi yang dipilihnya untuk mempercepat dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah ialah dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta, karena ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk meng­ajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.
Dengan mendidik para calon pamongpraja tersebut diharapkan akan dengan segera memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Demikian juga dengan mendidik para calon guru yang diharapkan akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, karena mereka akan mempunyai murid yang banyak. Oleh karena itu, Dahlan juga mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Putri Muhammadiyah). Dahlan mengajarkan agama Islam dan tidak lupa menyebarkan cita-cita pembaharuannya.
Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muham­madiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat.

     Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Perkumpulan ini berdiri pada tanggal 18 Nopember 1912. Sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi.
Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri Cabang Muham­madiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk meng­atasinya, maka K.H. Ahmad Dahlan menyiasa­tinya dengan menganjurkan agar Cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain, misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Makassar, dan di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari Cabang Muhammadiyah.

Di dalam kota Yogyakarta sendiri, Ahmad Dahlan menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jamaah-jamaah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).
Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkum­pulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersa­lahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap memba­ngun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.
Muhammadiyah juga dituduh hendak mengada­kan tafsir Qur’an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan argumentasi: “Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadis. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.  

Sebagai seorang demokrat dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).
Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam mem-bangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pemba­haruan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut :
1.    K.H. Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
2.    Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
3.    Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
4.    Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.
 Sumber: http://www.muhammadiyah.or.id/id/5-content-156-det-kh-ahmad-dahlan.html
 

Manhaj Dakwah Muhammadiyah


Manhaj Dakwah Muhammadiyah (Wajib dibaca!)

(Kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah)
Dakwah Kyai Ahmad Dahlan Rahimahullah
Satu abad sudah, Harakah Islamiyah Muhammadiyah berdiri tegak diatas bumi Indonesia kita tercinta ini. Salah satu agenda Dakwah Muhammadiyah yang diusung oleh Syaikh Ahmad Dahlan Rahimahullah adalah dakwah ar ruju’ illa Qur’an wa Sunnah. Beliau rahimahullahu ta’ala adalah salah satu tokoh Islam di Indonesia yang mengibarkan bendera dakwah Salafiyah Ahlusunnah Wal Jama’ah.
Dalam sejarah dakwah Islam di Indonesia, KH. Ahmad Dahlan adalah salah satu tokoh penting dari gerakan salafiyah, yakni gerakan pemurnian Islam seperti dirintis oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Muhammad ibn Abdul Wahhab, Muhammad Rasyid Ridha dan seterusnya. Di Indonesia sendiri dakwah salafiyyah dipelopori oleh tokoh yang dikenal dengan pemimpin kaum Paderi, yakni Imam Bonjol, yang selanjutnya diteruskan oleh gerakan Sumatera Tawalib. Itulah sebabnya, ketika Dakwah Muhammadiyah merambah ke Sumatera Barat, sambutannya begitu dahsyat, dan banyak tokoh Tawalib yang bergabung dengan Muhammadiyah, dan Muhammadiyah Sumatera Barat menjadi daerah kantong Muhammadiyah dengan kualitas dan kuantitas anggota yang sangat spektakuler, bahkan melebihi Yogyakarta tempat kelahirannya.
”Ideologi Salafiyah” yang menjadi manhaj KH. Ahmad Dahlan memang benar-benar merujuk kepada para ulama yang dikenal memiliki kommitmen terhadap manhaj salaf. Beliau membaca buku-buku Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim, seperti kitab ”al-Tawassul wal Wasilah, Madarij al-Salikin, Al-Aqidah al-Wasitiyyah, juga membaca Kitab Tauhid Ibnu Wahhab, serta buku-buku Rasyid Ridha. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa Ahmad Dahlan sempat berjumpa dengan Syaikh Rasyid Ridha tersebut di Mekkah saat beliau bermukim di sana.
Kalau kita baca buku ”Pelajaran KHA Dahlan: 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat Al-Quran” yang dihimpun oleh KHR. Hajid, sangat terasa sentuhan manhaj salaf, yang sangat tegas dan dalam memurnikan aqidah, ibadah dan penguatan akan tazkiyatun nafs, sebagaimana banyak diajarkan oleh ulama-ulama salaf.
Untuk itu, sangat tidak berlebihan, kalau warga Muhammadiyah kembali mengkaji falsafah dan ajaran KH Ahmad Dahlan, yang benar-benar menanamkan jiwa berjuang yang tinggi untuk menegakkan syari’at agama Islam secara kaffah dan murni. Bersih dari takhayyul, bid’ah, churafat (TBC) dan kemusyrikan, baik syirik asghar maupun syirik akbar.
Sangat aneh apabila ada Pimpinan atau anggota Muhammadiyah yang ingin menghidupkan amalan bid’ah dan khurafat, seperti Yasinan, Maulid Nabi, Istighosah Bighoirillah, Tahlilan untuk orang mati pada hari ke 3, 7, 40, 100, Tabarruk kepada orang-orang mati dan seterusnya. Juga getol menghidupkan ruwatan, dan sejenisnya, yang semuanya itu dilakukan dengan mengatasnamakan dakwah kultural. Sementara banyak kita jumpai, para santri dan beberapa kyai yang selama ini getol menghidupkan TBC, dan menggunakannya sebagai media dakwah, justru telah menyadari kekeliruannya, kemudian diteruskan dengan menulis buku-buku yang menguraikan kebid’ahan dan penyimpangan ritual-ritual seperti tahlilan, manakiban, yasinan dan istighasahan dan seterusnya.
Kita bersyukur atas kembalinya para kyai dan santri kepada dakwah salafiyah, dakwah pemurnian aqidah, ibadah dan akhlak, dengan pengendalian muamalah agar sesuai dengan prinsip muamalah Islam dengan mengikuti perkembangan jaman. Kita berharap mereka bisa gayung bersambut membantu Muhammadiyah dalam menguatkan dan menyebarkan dakwah salafiyah, dakwah yang bijak dan santun kepada setiap mad’u. Dakwah yang membimbing umat kepada jalan yang benar sesuai pesan-pesan al-Quran dan al-Sunnah, sejalan dengan manhaj salafush shalih.
Kewajiban untuk menuntut ‘Ilmu Syar’i bagi setiap warga Muhammadiyah
Muhammadiyah sebagai ormas islam keagamaan diakui secara nyata tidak banyak memiliki pondok pesantren sebanyak pendidikan formal non pesantren yang dimiliki. Sehingga akhir-akhir ini di Muhammadiyah terasa kekurangan tenaga da’i atau dan mubaligh pesantren untuk kepentingan dakwah di persyarikatan. Di Muhammadiyah sekarang yang banyak adalah da’i atau mubaligh kampus bukan da’i atau mubaligh pesantren hal ini dikatakan oleh KH.MS. Ibnu Juraimi Rahimahullah.
Selaras dengan hal itu apa yang diungkapkan KH. Ahmad Azhar Basyir kepada Bpk. Zaini Munir Fadhali (saat itu ketua Majelis Tarjih PWM DIY) bahwa kalau Muhammadiyah tidak mengembangkan basis pendidikan keagamaan seperti pesantren, maka 20 tahun kedepan Muhammadiyah tidak layak lagi menyandang titel ormas keagamaan. Bahkan Muhammadiyah tidak ada bedanya dengan organisasi umum seperti KOSGORO, KNPI dll.
Warga Muhammadiyah juga wajib mengapresiasi putusan-putusan para ulamanya yang terhimpun dalam Majelis Tarjih dan Tajdid, terutama HPT (Himpunan Putusan Tarjih), tetapi tetap harus membuka wawasan bahwa diluar HPT, masih banyak yang harus dikaji dan diamalkan. Artinya warga Muhammadiyah tidak boleh berhenti belajar dengan menganggap HPT adalah segala-galanya. Insya Allah dengan beginilah kita meneguhkan identitas dan ideologi persyarikatan. Istilahnya Pak Amien Rais, kader dan anggota Muhammadiyah haruslah memiliki komitmen dan wawasan dalam bermuhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan pun pernah aktif dalam Sarekat Islam dan Budi Utomo, juga bergaul akrab dengan tokoh Al-Irsyad, seperti Ahmad Syurkati. Beliau belajar kepada para ulama yang bermanhaj Salaf, seperti Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim lewat kitab-kitabnya, juga Muhammad bin Abdul Wahhab, Rahmatullah al-Hind, dan Rasyid Ridha. Dan kita sebagai warga Muhammadiyah dan khususnya para Pimpinannya harus terus mempelajari kitab-kitab Ulama’ yang dahulu juga dikaji  dan dipelajari oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah generasi awal, bukan malah meninggalkannya dengan menganggap sudah kuno, lapuk dan tidak sesuai dengan zamannya lagi.
Dari sini dapat dimengerti bahwa teguhnya ideologi Muhammadiyah tidak dengan menutup diri dan fanatik buta (terhadap tokoh-tokohnya dan siapa saja), Tetapi justru harus membuka diri untuk menerima kebenaran dari siapa pun selama sejalan dengan Al-Quran dan Al-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat. Nasrun minallah wa fathun qarib. 
 Maraji’ :
  1. Manhaj Dakwah Muhammadiyah, DR.Syamsul Hidayat, M.A., Wakil Ketua MTDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Dosen UMS.
  2. Ahlusunnah wal Jama’ah, Bid’ah dan Khurofat, Djarnawi Hadikusumo (Pimpinan Pusat Muhammadiyah Tempo Doeloe, Anaknye Ki Bagus HK yang ga’ mau nyembah Matahari Pas lagi Jaman Jepun, mungkin karena bliau memiliki kemurnian Aqidah Ahlusunnah+Baca Kitab Tauhid).
  3. Muqodimah Profil Ponpes Muhammadiyah Al Manar Kulonprogo.
Buletin At Tashfiyah Edisi Perdana (7 Juli 2010)
Ma’had Ki Bagus Hadikusumo Sekolah Kader Muhammadiyah
Abu Umar Al Jawi
sumber : http://aslibumiayu.wordpress.com

Saturday, 26 December 2015

PENERIMAAN SANTRI BARU ANGKATAN KEDUA


PONDOK PESANTREN MODERN (PPM) 
MUHAMMADIYAH BOARDING SCHOOL (MBS)
BUMIAYU BREBES
Jalan Kauman No. 5 (Utara Masjid Agung Baiturrokhim) Bumiayu 52273


MENERIMA SANTRI BARU 
TINGKAT SMP TAHUN PELAJARAN 2016/2017


Syarat Pendaftaran

Syarat administratif meliputi:
  1. Fotokopi STTB atau raport 3 semester terakhir (bagi yang masih duduk di kelas 6 SD/MI atau 9 SMP/MTs)
  2. Fotokopi Akta Kelahiran
  3. Pas foto 3 x 4 = 4 lembar
  4. Fotokopi  Kartu Keluarga
  5. Membayar uang pendaftaran sebesar Rp. 100.000,-
  6. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk Kedua Orang Tua

Waktu Pendaftaran

  •  Gelombang I
Pendaftaran & Tes 1 Desember 2015 – 30 Januari 2016
Pengumuman 1 Februari 2016
  •  Gelombang II
Pendaftaran & Tes 1 Februari – 30 Maret 2016
Pengumuman 1 April 2016

  •  Gelombang III
Pendaftaran & Tes 1 April – 30 Mei 2016
Pengumuman 1 Juni 2016


Ketentuan Pendaftaran

  • Pendaftaran dan tes dilaksanakan dengan sistem One Day Service (pada hari yang sama).
  • Pendaftaran dan tes dilayani mulai pukul 08.00 – 15.00.
  • Untuk pendaftar dari luar Jawa, persyaratan bisa dikirimkan melalui pos, wawancara akan dilakukan via telepon setelah persyaratan diterima.
  • Pendaftaran Gelombang I hanya dilayani pada hari Sabtu dan Ahad, sedangkan untuk Gelombang II dilayani setiap hari.
  • Gelombang III hanya dibuka bila kuota belum terpenuhi.

Pendaftaran Gelombang I sudah tutup.Formulir yang masuk pada periode ini insya Allah akan mulai ditindaklanjuti tanggal 3 Februari 2016

Kontak Person
1. Tarkum, SHI., M.Pd            (NBM. 1157.292) HP. 085 786 284  345 (IM3)
2. Sutarmo, S.Ag., M.Pd          (NBM. 917.782)   HP. 085 225 240  621 (AS)
3. Wenny Nurul 'Aini, S.Pd.I  (NBM. 1163.667)  HP. 085 227 745  345 (AS)